Skip to main content

Kekuatan Berfikir Positif

"Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran” (Qur'an Surat an-Najm: 28)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran y ang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim” (al-Hujurat:11)


(kesakitan yang sangat dirasakan
ketika turun dari puncak)
     Boleh jadi ayat-ayat diatas merupakan salah satu penegasan akan‘kelebihan’ umat Islam dibandingkan dengan umat lain yang ada didunia ini, sependek pengetahuan saya, tidak ada ajaran yang sedemikian agung yang begitu menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Jangankan menganiaya, hanya merendahkan secara lisan saja merupakan perbuatan yang tidak patut bagi muslim yang menganggap dirinya beriman. Jadi, sangat salah ketika dikatakan Islam tidak menghargai manusia sebagai manusia seutuhnya, hukum Islam sebenarnya mengatur agar manusia secara terhormat dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah dimuka bumi ini.
     “what you see is what you feel, what you do, is what you get”, anda pasti heran, apa benar seperti itu?? Saya pun demikian, ketika pertama  kali membaca dan menghayati (kayak membaca teks pancasila ya…) Hehe…tetapi ini kemudian menjadi pembenaran karena alasan berikut ini:“What you see” lebih popular dikatakan “persepsi”, artinya persepsi yang anda miliki erat terkait dengan jenis informasi yang anda dapatkan, ibarat memiliki peta Jogja, semakin benar peta yang dimiliki (dan informasi yang ada didalamnya) maka dapat saya pastikan anda semakin menikmati jogjakarta.
    Pikiran negative seperti tidak percaya diri, rasa sungkan dan lain sebagainya pada akhirnya akan membatasi kemampuan kita yang sebenarnya, inilah yang kemudian banyak orang menyarankan kita senantiasa untuk melakukan ‘breaking limit’, meluluhlantakkan keterbatasan yang membatasi diri kita. keterbatasan tersebut sebenarnya adalah kita sendiri yang membuat. Sebaliknya dengan pikiran positif (husnuzan).Lalu apahubungan antara ayat yang telah saya sebutkan diawal dengan sebuah persepsi?? Saya hanya akan mencoba mengkisahkan pengaruh kekuatan pikiran bagi diri kita.
     5 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2005 (saya lupa bulannya). Saya melakukan pendakian Gunung Lawu dengan beberapa teman, (jumlah rombongan hanya 4 orang). Awal perjalanan kita ketemu dengan tim dari almamater sekolah temen saya sehingga total rombongan lebih dari 50 orang. Sekedar catatan, Ini merupakan pengalaman pertama saya mendaki gunung. Sekitar jam 9 malam kita mulai berangkat mendaki. Baru beberapa meter, nafasku terengah-engah, kecapekan "banget", Bahkan terpikir untuk stop  dan kembali ke bawah.
     Tidak cukup dengan rasa lelah yang mendera, ternyata saya terpisah dengan teman rombongan… padahal (ini kesalahan ketika melakukan pendakian, maklum amatiran…) saya cuma membawa sebotol air minum, perbekalan lain dibawa oleh teman-teman… dalam kebingungan itu, muncullah kekuatan bahwa aku bisa menaklukkan Gunung Lawu, pikir saya, saya pasti akan ketemu dengan teman-teman di atas (puncak…
       Karena tidak tahu jalan dan jalur ke puncak, ya saya cuma mengikuti langkah seseorang yang notabene lebih berpengalaman dibandingkan saya dalam mendaki gunung plus orang tersebut tidak saya kenal!, saya ikuti saja langkah-langkahnya… sambil bertanya pada pendaki lain, lihat sosok warna gini gak (warna tim dari almamater temen saya)?? (sesuatu yang bodoh karena mana mungkin di malam hari_dan digunung lagi, dapat melihat warna selain hitam.. hihii)… entah kenapa, capek yang saya rasakan hilang menjadi kekuatan yang memaksa saya untuk terus melanjutkan pendakian….
      Akhirnya tiba hamper di pos IV (puncaknya adalah pos V), tanpa sengaja saya ketemu dengan beberapa pendaki (3 orang kalo tidak salah) yang terlihat panic mencari rombongannya, terlihat panic karena terpisah dengan rombongannya dan  ditambah dengan kejadian ada teman mereka (dari 3 orang) yang terlihat tersengal-sengal susah bernafas, saya berhenti dan bermaksud menolong dan bisa menolong   semampunya (padahal gak bisa banget masalah medis darurat…)… akhirnya dalam waktu yang cukup lama, teman mereka bisa tertolong….
      Setelah menolong pendaki lain itulah, tidak disangka-sangka, saya ketemu teman yang 3 orang… ternyata!!!!!, mereka pun mencari saya, karena saya dianggap hilang!!, dan lagi-lagi… 3 orang teman _yang kukira meninggalkan diriku ternyata.. malahan berada dibelakang saya!!!!, saya melongok saja, terkejut bukan main.. apa yang selama ini saya anggap tidak mungkin dilakukan ternyata bisa terlaksana karena ada positif thinking!. Entah kenapa, setelah bertemu, kekuatan saya hilang dan akhirnya (karena sudah agak pagi, sekitar jam 5, ufuk fajar terlihat dari puncak gunung lawu) saya memilih untuk sholat subuh dan melanjutkan aktivitas selanjutnya, yaitu tidur.. hahaha, soalnya tidak ada gairah melanjutkan pendakian karena pos V sudah terlihat dari tempat saya tidur… dari 4 orang, akhirnya yang betul-betul ke puncak hingga pos V cuma 2 orang…
        sekitar jam 9-an, kita turun gunung, karena senangnya kalo sudah mau pulang, kesalahan kedua saya buat!.. adalah karena merasa enteng tinggal turun, saya turun dengan sedikti loncat sana loncat sini (meloncat-loncat)... belum sampe setengah jam, 'kecelakaan' kecil saya alami, kaki sebelah kiri saya keseleo... what a pity! dengan dipaksa, saya akhirnya berjalan dibelakang sendiri sambil memaksakan untuk dapat melangkah.. tertatih-tatih sambil menahan kesakitan saya akhirnya sampai di bawah.. menuju basecamp awal dan pulang. 

Hikmah cerita ini adalah: 
  • Sah-sah saja kita bereuforia, tetapi jangan berlebihan deh.. :D
  • Jangan biarkan diri kita dikuasai prasangkan negative, belajarlah untuk berbaik sangka, apapun itu….

Comments

Popular posts from this blog

Sikap Sederhana dan kita

“ kesederhanaan ”, kata ini yang saya dapat ingat dari sekian cerita yang disampaikan oleh Ustaz Ismail Thaib (kebetulan hari kamis 14 januari 2010, saya bersama dengan Ustaz Asep Shalahuddin dan mas Maryono + pak Yunan) bertandang ke rumah beliau di daerah Nologaten. Siapakah Ustaz Ismail Thaib, bagi yang berasal dari Aceh tentu mengenal sosok beliau, seingat saya beliau pernah menjadi penasehat semacam himpunan warga Aceh yang tinggal di Jogjakarta.Bagi yang tidak tahu, saya katakan beliau adalah Dosen saya sewaktu kuliah di Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Praktis, selain dengan Ustaz Asep, tiadalah beliau mengenal kami.., hanya saja, sebagaimana yang sudah saya duga, ketika melihatku, beliau berkata: “ kayaknya, wajah ini kok tidak asing ya?. Dimana pernah bertemu?, kalau wajah saya masih ingat tapi kalau nama, sudah lupa ”. Gubrak… saya membatin, yah… apes bener, masih ingat juga dengan wajahku… hehehe

sekolah=Lembaga Pendidikan: Standar Pendidikan

    Menyebut lembaga pendidikan berkualitas, tentu tidak hanya diukur dari kelulusan 100% dalam ujian akhir Nasional, tetapi masih ada 7 (tujuh) indicator lain. Celakanya, kriteria kelulusan UAN seakan menjadi indicator penentu dalam ‘menghakimi’ suatu sekolah adalah berkualitas. Dengan kata lain, masyarakat kita terjebak dalam asumsi sepihak bahwa factor kognitif-lah yang menjadi penentu derajad kualitas suatu lembaga pendidikan, efeknya adalah: sekolah yang berhasil meluluskan siswanya dalam ujian nasional hingga 100%, dapat dipastikan ramai pendaftar siswa baru. Keramaian tersebut didukung oleh kecemasan orang tua akan masa depan anaknya jika menuntut ilmu di sekolah yang kelulusan siswanya dalam ujian nasional mencemaskan.

Muallimin dulu, sekarang dan nanti

   Baru saja, tanpa sengaja saya menemukan sebuah leaflet tentang Muallimin Yogyakarta, saya perkirakan dicetak pada tahun 1994-an, karena di halaman belakang jumlah asramnya baru 5 tempat (asrama dekat masjid Al-barokah). Biasa-biasanya pertama menemukannya, ah.. masih ada to buku lama pikirku. Tetapi ada sesuatu yang menarik di halaman sebelum terakhir, yaitu halaman yang memuat komentar Alumni (Prof., DR. Syafii Maarif, DR. Khoiruddin Bashori., Drs. Med, Athailla A. Latif dan Zamroni A.S.,B.A.).    Buya Syafii menceritakan bagaimana kebesaran Mu’allimin sebagai sebuah mercusuar yang dikenal dalam proses pembentukan KEPRIBADIAN dan wawasan keagamaan yang diasuh oleh ulama-ulama beken seperti: KH. Jazari Hisyam, KH. Mahfudzh Siradj, Kyai Balia Umar dan sebagianya. Dalam komentarnya, Buya Syafii menegaskan akan penting Muallimin sebagai sekolah yang diperlukan dalam memberikan fondasi kepribadian dan wawasan keagamaan bagi calon-calon pej...