Skip to main content

Mari Sekolah Tanpa Kekerasan

     Judul tulisan ini bisa jadi satu keganjilan bagi sebagian orang, pasalnya, suatu keganjilan ketika ada sekolah yang menyuburkan tindakan kekerasan!. Lalu sebenarnya apakah kekerasan itu betul-betul ada dalam suatu lembaga pendidikan yang seharusnya mengedepankan nilai-nilai kebersamaan atau keadilan bagi anggota sekolah tersebut (pendidik, tenaga kependidikan dan siswa)? Kalau diibaratkan, sekolah adalah suatu keluarga. Ini yang perlu disadari oleh semua orang yang turut serta dalam proses pendidikan disebuah lembaga pendidikan, apapun bentuk lembaga tersebut!
      “dunia ini adalah panggung sandiwara”, mungkin ada yang pernah mendengar lagu yang dilantunkan oleh Nicky Astria (alm) pada tahun 90-an?.. ya, dunia ini pada hakikatnya merupakan panggung sandiwara yang besar, dimana didalamnya banyak sekali jenis pemain. Sekolah (dalam konteks tulisan ini) merupakan panggung sandiwara!, pemainnya terdiri atas: Penindas (subyek), Tertindas (obyek) dan Penonton.
Setidaknya ada tiga unsure dalam penindasan (Barbara Coloros: 2007):
  1. Ketidak seimbangan kekuatan; penindas bisa jadi lebih kuat, factor senioritas seperti lebih tua, lebih kuat, lebih besar, status social lebih tinggi ataupun dari suku/ras yang berbeda.
  2. Niat untuk menciderai, disini factor kenikmatan tersendiri ketika dapat menindas orang lain mendominasi dalam diri seorang penindas, ada excite tersendiri ketika dapat menciderai (entah secara fisik atau verbal) pada orang lain.
  3. Ancaman agresi lebih lanjut: artinya baik pelaku maupun korban sama-sama menyadari bahwa yang namanya penindasan akan tetap muncul (terjadi kembali).. >> jadi ya dilegalkan dan dilanjutkan saja.. nanggung deh.. :D. ketika eskalasi penindasan semakin meningkat, maka akan muncul elemen yang ke-empat yaitu:
Teror: terror pada hakikatnya adalah merupakan tujuan Penindasan itu sendiri, ketika sebuah terror telah tercipta, maka sang penindas dapat bertindak semaunya tanpa khawatir ada pembalasan, sebaliknya korban (tertindas) menyerah tanpa daya seolah-olah dia tidak akan pernah membalas atau mengatakan kepada orang lain tentang penindasan yang dialaminya.

Cara dan alat penindasan:
Cara-cara menindas bisa berbentuk:
  1.  Verbal, “lemparan batu, kayu akan menghancurkan tulang saya, tapi tidak untuk kata-kata”. Jika kalimat ini yang muncul dari diri seseorang makan dapat dikatakan dia berbohong!, pasalnya; kata-kata merupakan alat yang kuat dan dapat mematahkan semangat anak yang menerimanya!. Tidak heran jika kemudian, kalimat-kalimat positif (penuh motivasi) merupakan hal yang bermanfaat bagi anak-anak. Mungkin anda masih ingat ketika belajar naik sepeda, ketika jatuh makan yang dikatakan orang tua adalah kata-kata positif yang pada akhirnya membangkitkan semangat untuk mencoba..mencoba dan mencoba lagi (dan ini terjadi tanpa kita sadari kan??). Dan perlu dicatat, penindasan secara verbal merupakan salah satu jenis penindasan yang paling mudah dilakukan!!!
  2. Penindasan Fisik, jenis penindasan ini merupakan jenis yang paling tampak dan paling mudah diidentifikasi… namun, kejadian ini terhitung jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jenis penindasan sebelumnya.
  3. Penindasan Relasional, jenis penindasan ini  merupakan jenis penindasan yang sulit diidentifikasi. Pada hakikatanya, penindasan semacam ini merupakan bentuk pelemahan harga diri korban (tertindas) melalui pengabaian, pengucilan atau penghindaran. Dan penindasan relasional ini mencapai klimaksnya di awal masa remaja, masa dimana perubahan fisik, mental, emosional dan seksual terjadi. Bentuknya bisa pengucilan dari kumpulan teman-teman sebaya, syukuran ulang tahun (yang terjadi karena dipaksa.. hehe) atau permainan lain.
Lalu apa sajakah tipe penindas? Ada 7 tipe:
  1. Penindas yang percaya diri, artinya penindas memiliki kebanggaan diri yang  berlebihan, ia merasa nyaman ketika merasakan lebih unggul dibandingkan orang lain
  2. Penindas social, penindasan ini bertujuan mengisolasi korban dari aktivitas-aktifitas social. Ia penuh tipu muslihat dan manipulative; ia dapat bertingkah seakan-akan orang-orang penuh kasih saying dan penuh perhatian! Padahal sebaliknya.
  3. Penindas Bersenjata Lengkap, tipe ini adalah jenis penindas yang akan melakukan penindasan ketika tidak ada seorangpun yang akan melihatnya. Ia memiliki sesuatu yang ‘misterius’ yang dapat anda sebut: berpenampilan dingin dan tidak berperasaan
  4. Penindas hiperaktif, bisa tipe ini banyak didominasi orang yang memiliki ketidakcakapan belajar, bereaksi agresif (sampai pada provokasi ringan)
  5. Penindas yang tertindas, artinya: tipe ini adalah tipe yang menindas orang lain sebagai ‘obat’ atas ketidakberdayaan dan kebencian akan dirinya sendiri.
  6. Kelompok Penindas, adalah sekumpulan teman yang secara kolektif melakukan sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan secara perorangan. Kelompok penindas ini SADAR bahwa apa yang  dilakukan itu salah, namun tetap saja melakukannya.
  7. Gerombolan Penindas, adalah kumpulan anak menakutkan yang bukan berfungsi sebagai sekelompok teman. Merka hanya berfungsi sebagai aliansi strategis untuk menguasai, mengontrol, mendominasi dan menjajah.

Comments

Popular posts from this blog

Sikap Sederhana dan kita

“ kesederhanaan ”, kata ini yang saya dapat ingat dari sekian cerita yang disampaikan oleh Ustaz Ismail Thaib (kebetulan hari kamis 14 januari 2010, saya bersama dengan Ustaz Asep Shalahuddin dan mas Maryono + pak Yunan) bertandang ke rumah beliau di daerah Nologaten. Siapakah Ustaz Ismail Thaib, bagi yang berasal dari Aceh tentu mengenal sosok beliau, seingat saya beliau pernah menjadi penasehat semacam himpunan warga Aceh yang tinggal di Jogjakarta.Bagi yang tidak tahu, saya katakan beliau adalah Dosen saya sewaktu kuliah di Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Praktis, selain dengan Ustaz Asep, tiadalah beliau mengenal kami.., hanya saja, sebagaimana yang sudah saya duga, ketika melihatku, beliau berkata: “ kayaknya, wajah ini kok tidak asing ya?. Dimana pernah bertemu?, kalau wajah saya masih ingat tapi kalau nama, sudah lupa ”. Gubrak… saya membatin, yah… apes bener, masih ingat juga dengan wajahku… hehehe

sekolah=Lembaga Pendidikan: Standar Pendidikan

    Menyebut lembaga pendidikan berkualitas, tentu tidak hanya diukur dari kelulusan 100% dalam ujian akhir Nasional, tetapi masih ada 7 (tujuh) indicator lain. Celakanya, kriteria kelulusan UAN seakan menjadi indicator penentu dalam ‘menghakimi’ suatu sekolah adalah berkualitas. Dengan kata lain, masyarakat kita terjebak dalam asumsi sepihak bahwa factor kognitif-lah yang menjadi penentu derajad kualitas suatu lembaga pendidikan, efeknya adalah: sekolah yang berhasil meluluskan siswanya dalam ujian nasional hingga 100%, dapat dipastikan ramai pendaftar siswa baru. Keramaian tersebut didukung oleh kecemasan orang tua akan masa depan anaknya jika menuntut ilmu di sekolah yang kelulusan siswanya dalam ujian nasional mencemaskan.

Muallimin dulu, sekarang dan nanti

   Baru saja, tanpa sengaja saya menemukan sebuah leaflet tentang Muallimin Yogyakarta, saya perkirakan dicetak pada tahun 1994-an, karena di halaman belakang jumlah asramnya baru 5 tempat (asrama dekat masjid Al-barokah). Biasa-biasanya pertama menemukannya, ah.. masih ada to buku lama pikirku. Tetapi ada sesuatu yang menarik di halaman sebelum terakhir, yaitu halaman yang memuat komentar Alumni (Prof., DR. Syafii Maarif, DR. Khoiruddin Bashori., Drs. Med, Athailla A. Latif dan Zamroni A.S.,B.A.).    Buya Syafii menceritakan bagaimana kebesaran Mu’allimin sebagai sebuah mercusuar yang dikenal dalam proses pembentukan KEPRIBADIAN dan wawasan keagamaan yang diasuh oleh ulama-ulama beken seperti: KH. Jazari Hisyam, KH. Mahfudzh Siradj, Kyai Balia Umar dan sebagianya. Dalam komentarnya, Buya Syafii menegaskan akan penting Muallimin sebagai sekolah yang diperlukan dalam memberikan fondasi kepribadian dan wawasan keagamaan bagi calon-calon pej...